Sebab – Sebab Karyawan Menolak Perubahan Dalam Organisasi


Resistance To Change

Proses perubahan yang terjadi dalam sebuah organisasi seringkali tidak berjalan dengan baik dan lancar. Bahkan perubahan seringkali dipandang sebagai sebuah ancaman terhadap keberadaan dan keberlangsungan sebuah organisasi termasuk perusahaan. Apa saja sebab-sebab karyawan menolak perubahan dalam sebuah organisasi?

Penolakan terhadap adanya perubahan terjadi dalam dua tingkatan, yakni baik dari tingkatan individu dan tingkatan organisasi. Baik pada tingkatan individu ataupun organisasi (individu secara majemuk) seringkali terjadi penyangkalan bahwa keadaan baik-baik saja dan mereka tidak memerlukan perubahan. Perubahan bisa saja berdampak positif bila mendorong terjadinya diskusi dan pembahasan yang terbuka. Namun seringkali perubahan disikapi secara apatis ataupun diam-diam saja. Hal ini mengindikasikan seolah perubahan diterima dengan baik, namun sebenarnya tidak.

Perubahan bisa jadi disikapi secara terang-terangan dan mendadak seperti adanya peningkatan keluhan dari karyawan ataupun dapat disikapi dalam bentuk pengaruh nyata terhadap pekerjaan. Ada juga yang menyikapi secara implisit dan ditangguhkan seperti kehilangan motivasi dan loyalitas, meningkatnya absen, meningkatnya jumlah kesalahan dan berbagai bentuk lainnya.

Pada tingkatan individual, penolakan disebabkan beberapa faktor seperti kebiasaan, hilangnya rasa aman, faktor ketakutan ekonomi, ketakutan pada hal-hal yang belum diketahui dan proses seleksi informasi. Faktor kebiasaan adalah hal yang sulit dihilangkan karena kebiasaan adalah aktivitas atau hal-hal yang telah terprogram dalam benak kita secara rutin. Ketika menghadapi proses perubahan, faktor kebiasaan ini bisa jadi menghambat lancarnya perubahan yang sedang dilakukan.

Rasa aman adalah salah satu faktor utama terhadap proses perubahan yang dilakukan. Orang atau karyawan yang memiliki kebutuhan akan rasa aman yang tinggi bisa jadi merasa terancam karena adanya perubahan ini. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul misalnya ketika perusahaan menerapkan sistem teknologi untuk proses produksi, akan membuat karyawan di bagian produksi merasa terancam, apakah saya akan kehilangan pekerjaan saya karena adanya mesin-mesin baru. Perubahan mendorong terjadinya ambiguitas dan ketidakpastian pada hal-hal yang tidak diketahui. Ambiguitas dan ketidakpastian mendorong karyawan untuk merasa takut, khususnya kepada karyawan yang memiliki kebutuhan stabilitas yang tinggi.

Ketakutan kehilangan pekerjaan juga merupakan salah satu faktor ekonomi. Ketakutan yang disebabkan oleh faktor ekonomi juga salah satunya disebabkan adalah kekhawatiran orang atau karyawan jika mereka khawatir bahwa mereka tidak dapat melaksanakan tugas yang baru yang berbeda dengan standar yang ditetapkan kepada mereka.

Penyebab lainnya karyawan menolak perubahan adalah juga disebabkan oleh faktor dalam diri karyawan yakni mindset atau pola pikir. Hal ini bisa terjadi ketika karyawan secara selektif memproses informasi yang mereka terima mengenai perubahan. Ini terjadi karena kita sebagai individu melakukan proses informasi secara selektif agar apa yang kita dengar, kita lihat, kita baca tetap sesuai dengan persepsi yang ada dalam benak kita dan seringkali mengabaikan informasi yang tidak ingin kita ketahui.

Diterjemahkan dan dikembangkan dari buku Organizational Begavior Global Edition Sixteenth Edition yang ditulis oleh Stephen P Robbins dan Timothy A Judge

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s