Bagaimana Persyaratan dan Penilaian Kelayakan Kredit Bank Untuk Sektor UMKM part 1


loan-application

Saya mendapatkan amanah dari Mas Lukman Sabani, blogger yang tulisan-tulisan inspiratis mengenai dunai usaha dapat anda baca di BisnisNesia untuk membuat sebuah artikel mengenai bagaimana cara bank menilai apakah sebuah perusahaan akan dikucuri kredit atau tidak, dengan konteks untuk bisnis kecil atau UKM. Sebuah amanah sekaligus sebuah bentuk kepercayaan yang tak terkira nilainya bagi saya.

Saya memang bekerja di bank, namun pengalaman saya di kredit relatif masih terbatas, apalagi pada kredit untuk sektor UMKM. Namun berdasarkan referensi pengalaman dan diskusi dengan sejumlah teman-teman di bank lain yang dengan baik hati bersedia untuk memberikan sejumlah pengetahuan berarti untuk penyusunan artikel ini.

Pada prinsipnya sebagian besar dari kita tentu pernah mendengar istilah 5C sebagai syarat yang harus di penuhi apabila bank ingin memberikan kredit. Ke 5 C tersebut adalah character, capacity, capital, condition of economy, atau collateral. Character atau karakter lebih menekankan kepada pemilik bisnis kecil atau UMKM ketimbang usahanya. Capacity atau kapasitas merupakan penilaian bank mengenai kemampuan debitur atau calon debitur (calon peminjam) untuk dapat mengembalikan pokok beserta bunga pinjaman. Capital atau modal menekankan kepada penilaian keuangan perusahaan. Condition of economy atau kondisi ekonomi lebih menekankan kepada kondisi ekonomi yang sedang terjadi. Yang terakhir adalah collateral atau jaminan, merupakan aset dari debitur yang dapat dijaminkan kepada bank seandainya nantinya debitur tidak dapat mengembalikan pinjaman.

Dari ke 5 c tersebut, penilaian terhadap pemilik usaha dinilai dari Character, sedangkan penilaian kepada perusahaan atau sebuah bisnis dinilai dari capacity, capital dan collateral. Penilaian tambahan adalah condition of economy merupakan penilaian sebuah bank terhadap kondisi eksternal yang mungkin saja dapat mempengaruhi kemampuan atau ketidak mampuan sebuah perusahaan atau calon debitur dalam memenuhi kewajibannya. Selain dari ke 5 C tersebut, masing-masing bank memiliki persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon debitur. Masing-masing bank tentu juga memiliki berbagai mekanisme tersendiri dari penyaluran kredit kepada sektor UMKM, mulai dari penilaiannya hingga kepada penyalurannya.

Bahkan ada juga pemahaman 6C yang menambahkan unsur Constraint sebagai salah satu pelengkap dari 5C tersebut. Constraint adalah batasan dan hambatan yang tidak memungkinkan suatu bisnis untuk dilaksanakan pada tempat tertentu.

Selain prinsip 5C atau 6C tersebut, ada juga pendekatan 7P dan 3R. 7 P terdiri dari personality (mirip dengan character), party (pengklasifikasian calon debitur kedalam skala kelompok usaha yang mana), purpose (tujuan calon debitur dalam mengambil kredit, untuk mengetahui jenis kredit apa yang dibutuhkan oleh calon debitur), prospect (prospek usaha), payment (bagaimana cara calon debitur mengembalikan pinjaman), profitability (kemampuan nasabah dalam menghasilkan profit), dan protection (menjaga kredit yang telah diberikan). Jika diperhatikan aspek protection mirip-mirip dengan aspek collateral. Sedangkan aspek party, prospect dan payment hampir mirip-mirip dengan aspek capacity dan capital. Sedangkan penilaian 3R mencakup return, repayment dan risk bearing ability.

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

2 thoughts on “Bagaimana Persyaratan dan Penilaian Kelayakan Kredit Bank Untuk Sektor UMKM part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s