Batu Akik dan Tata Kelola Lingkungan


batuakik

Indonesia kembali ke jaman batu. Begitu kata orang kebanyakan dalam menyikapi maraknya trend batu yang marak di masyarakat. Beragam batu akik hingga batu permata begitu dengan mudahnya kita temui. Percakapan mengenai batu dan termasuk juga upaya menawarkan batu menjadi lazim kita dengar. Batu tetiba saja menjadi hal yang paling happening. Beredar informasi bahwa trend mengenai batu ini diawali karena Presiden kita waktu itu Pak SBY menyerahkan batu kepada Barack Obama dalam sebuah kesempatan. Dari batu bacan, kecubung hingga batu permata seperti batu safir dan batu zamrud, semuanya sangat mudah ditemui.

Kita pun tahu kemudian beredar batu-batu dengan motif-motif gambar-gambar seperti Ratu Gunung Kidul, Naga, Macan dan lain-lain sebagainya dengan harga-harga yang relatif mencengangkan. Terlepas dari kenapa orang mau membeli batu-batu tersebut dengan harga yang menurut saya tidak masuk akal, hal itu saya kembalikan kepada masing-masing orang. Itu menjadi hak dan privasi dari masing-masing orang karena ketika bicara mengenai masalah hobi dan selera, hal tersebut menjadi sangat subjektif.

Yang menjadi permasalahan bukan hal tersebut. Yang menjadi permasalahan adalah karena harga-harga batu menjadi naik, maka makin banyak orang yang mencari peluang dengan berdagang batu, dan menghalalkan segala cara. Termasuk diantaranya yang ramai dibicarakan dan membuat Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama yang geram karena dirinya mendengar ada oknum yang merusak trotoar yang terbuat dari batu sungai. Ada juga yang mengambil batu-batu dari sungai. Awal tahun ini, kita juga diramaikan dengan penemuan batu giok sebesar 20 ton di Aceh yang membuat riuh karena masyarakat berbondong-bondong untuk membongkar batu tersebut.

Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat kita memang (mohon maaf) bermentalkan instant ingin cepat untung semata. Padahal kita ketahui bahwa batu adalah elemen yang berkaitan dengan alam. Melakukan ekspoitasi sumber daya alam secara serampangan dapat berdampak negatif terhadap lingkungan.

Itulah sebabnya perusahaan-perusahaan yang bisnisnya berorientasi pada sumber daya lingkungan mengharuskan memiliki penanganan yang serius terhadap dampak negatif yang disebabkan oleh aktivitas usahanya misalnya limbah. Perusahaan yang melakukan eksplorasi daya alam juga diwajibkan harus melakukan pengembalian terhadap kerusakan-kerusakan dengan melakukan reboisasi misalnya.

Aspek tata kelola lingkungan menjadi sangat penting untuk kita perhatikan karena setiap aspek kehidupan kita sangat dipengaruhi dan dapat mempengaruhi lingkungan hidup.

Itu perusahaan besar, apalagi seharusnya orang per orang. Sekalipun hanya membongkar batu sungai demi batu perhiasan semata. Eksploitas sumber daya alam, sekalipun kecil jumlahnya, harus tetap dilakukan dengan penuh keseksamaan. Mengorbankan alam hanya demi kepuasan mata manusia semata adalah hal yang sangat konyol. Hati-hati terhadap Alam yang dapat menghukum kita.

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s