Sepakbola. Tinta Yang Tak Pernah Kering


Main Bola

Ketika membicarakan sepakbola tidak akan pernah ada habisnya. Akan selalu ada cerita-cerita yang bisa dikupas ketika membicarakan olahraga yang satu ini. Akan selalu ada berbagai sisi yang bisa menjadi perspektif. Karenanya sepakbola seperti tinta yang tak akan pernah kering bagi siapapun yang terlibat didalamnya, baik itu para pemainnya, pertandingannya ataupun kita para penontonnya.

Kita bisa melihat sepakbola dari perspektif sejarah sepakbola itu sendiri dimana banyak cerita-cerita hebat mengenai pertandingan-pertandingan yang dilakukan oleh sejumlah pemain-pemain hebat dari kesebelasan hebat. Cerita tentang Pele, Maradona, Cruyf, Platini ataupun sederet pemain-pemain yang memukau dunia dan memberikan alasan yang tepat dari sekian banyak alasan untuk kita mencintai permainan sepakbola. Di masa sekarang, perdebatan siapa pemain yang lebih baik antara Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi adalah salah satu cerita tentang rivalitas yang mewarnai sepakbola di dunia. Ada juga pemain-pemain yang memberikan warna unik pada sepakbola, Zlatan Ibrahimovic adalah salah satu diantaranya dengan pernyataan-pernyataan yang tanpa tedeng aling-aling. Tak boleh ketinggalan, tentu saja adalah David Beckham, founding fathers untuk sepakbola-selebriti masa modern.

Alex Ferguson

Cerita tentang pelatih-pelatih hebat pun tidak kalah banyaknya. Jose Mourinho yang terkenal dengan pernyataan-pernyataan yang menguncang akal sehat ditambah sengketanya dengan sejumlah pelatih seperti Rafael Benitez, ataupun Guardiola, pelatih jenius yang bergelimang piala dalam waktu yang terbilang singkat. Ataupun tengoklah sedikit kebelakang dari sekarang, dimana kita pernah menemui romantisme ala Alex Ferguson dan Arsene Wenger. Membicarakan Alex Ferguson yang terkenal dengan hairdryer treatment dan kemampuan psy war, selain tentu saja raihan trofi yang tidak bisa di hitung dengan jari. Dari mereka-merekalah kita belajar kepemimpinan dan kemampuan manajerial yang baik.

Ataupun cerita-cerita mengenai kesebelasan hebat seperti Real Madrid yang menjuarai liga champion 5 tahun berturut-turut, Barcelona era Guardiola yang superior, Arsenal yang pernah tak terkalahkan selama semusim, Tim Nasional Belanda yang penuh dengan keindahan melalui total football yang melegenda itu, ataupun berbagai tim nasional lainnya seperti Italia yang terkenal dengan Catenaccionya, Brasil tim samba yang terkenal dengan jogo bonitonya, tarian tango dari Argentina, Jerman dengan pragmatism bermain ala Panzer. Terlalu banyak tim-tim yang patut di catat dalam sejarah.

Perkembangan permainan itu sendiri pun turut mewarnai perjalanan sepakbola di dunia. Perkembangan ragam variasi formasi, taktik dan strategi berjalan seiringan dengan perkembangan dunia. Kita pernah mengenal jogo bonito, total football, kick and rush, catenaccio lalu kemudian tiki-taka yang sempat menimbulkan teka-teki bagaimana cara mengatasi orang-orang Spanyol yang senang mengumpan itu. Semakin berkembangnya taktik dan strategi pun memunculkan beragam istilah peran untuk pemain. Deep Role Playmaker, Triquertista, Libero, Inverted Winger, Poacher, dan lain sebagainya dengan definisi dan karakteristik yang berbeda-beda satu sama lainnya. Ribet, njlimet tapi juga menawarkan sebuah eksistensi tersendiri.

Pun ketika kita membicarakan perspektif ekonomi dalam memandang sepakbola, dimana sepakbola sudah semakin berkembang menjadi industri. Penjualan merchandise, spot iklan di stadion, sponsorship, kerjasama komersial dengan produsen apparel olahraga, pemasangan logo di jersey ataupun di belakang jersey seperti yang dilakukan oleh Intel kepada Barcelona. Intel seperti ingin mengatakan, dibalik pemain jenius Barcelona, ada kami didalamnya. Di Indonesia, sebenarnya ada banyak potensi promosi dan bisnis menjadi sponsor klub sepakbola di Indonesia.

Manchester United 99

Sepakbola seperti menjadi syair dalam kehidupan kita. Ia mengajarkan banyak hal dalam hidup kita. Bagaimana berjuang untuk meraih kemenangan. Seperti yang dicontohkan oleh Manchester United dalam peristiwa 3 menit “malam itu di camp nou” dimana pada 3 menit terakhir mereka merubah Bayern Muenchen yang siap berpesta bir semalam suntuk menjadi tangis air mata. Betapa menakjubkan melihat semangat juang hingga The Last Minute Stamina yang ditunjukkan oleh David Beckham -yang setahun sebelumnya menjadi pesakitan Inggris di Piala Dunia 1998 hingga menjadi korban bullying di negeri kelahirannya sendiri- dan juga rekan-rekannya terus berjuang hingga menit terakhir. Ataupun kisah “malam itu di Istambul” dimana Steven Gerrard dan The Reds Liverpool bisa menyamakan keadaan setelah tertinggal 3 gol dari AC Milan, dan kemudian memenangkan pertandingan melalui drama.

Banyak sekali drama di sepakbola. Dari pecundang menjadi pahlawan, dari pahlawan menjadi pecundang. Atau pecundang tapi tetap dihormati bak dewa. Tim sepakbola Belanda yang menampilkan total football tetap dianggap menjadi “juara tanpa mahkota” yang bahkan dianggap lebih terhormat ketimbang Jerman yang menjadi juara dunia kala itu. Atau bahkan cerita tentang Zinedine Zidane yang dengan heroik mengantarkan Prancis menjadi juara dunia 1998 kemudian menodai akhir karirnya sendiri dengan menanduk Marco Materazzi di final piala dunia tahun-tahun setelahnya. Kemenangan barangkali adalah kekalahan yang tertunda. Jangan juga lupakan cerita nyentrik tentang Luis Suarez yang lebih kemasyhur akan hobinya menggigit pemain lawannya ketimbang kemampuannya mencetak gol, walaupun memang ia sungguh salah satu pemain sepakbola yang hebat.

Drama-drama lain juga tersaji ketika banyak sekali “David-David” yang mampu mengalahkan “Goliath-Goliath” dalam sepakbola. Cerita tentang klub bernama Nottingham Forest yang mampu menjadi Juara Champion sebanyak 2 kali. Ataupun cerita Denmark dan Yunani, negara yang tak diunggulkan yang mampu menjuarai Piala Euro disaat kita semua yakin tidak akan ada yang berani mempertaruhkan uang mereka untuk menebak mereka menjadi juara – kecuali warga negara mereka masing-masing, mungkin-. Cerita tentang Denmark sendiri, yang berawal dari di larangnya Yugoslavia untuk ikut berpartisipasi, adalah bukti nyata bahwa perspektif politik pun turut mewarnai sepakbola. Benito Mussolini yang konon kabarnya pernah mengancam tim nasional Italia barangkali juga menjadi sepenggal cerita hubungan politik dan sepakbola.

Tak semuanya melulu tentang cerita indah memang, ada cerita-cerita tragis dan kelam yang membuat kita bisa tetap ingat untuk berpijak pada daratan setelah menggenggam langit. Cerita tragis yang paling kemasyhur dari jagat Sepakbola adalah tentu saja kisah duka Matt Busby Babes yang mengalami kecelakaan pesawat di Muenchen. Cerita tragis lainnya barangkali ketika kita mengingat Tragedi Heysel, yang menimbulkan korban antara pendukung Liverpool dan Juventus. Escobar, pemain Kolombia yang ditembak oleh mafia Kolombia karena mencetak gol bunuh diri adalah juga salah satu kejahatan tragis di dunia sepakbola. Salah satu yang paling tragis juga adalah adanya peristiwa suap menyuap yang terjadi di internal FIFA terkait pemilihan tuan rumah piala dunia. Tapi sebobrok apapun FIFA, apakah mungkin kita mengabaikan piala dunia. Persis seperti PSSI, secarut marut apapun PSSI mengelola sepakbola, kita akan selalu terpanggil mendukung Garuda kita.

Terlalu banyak cerita dalam sepakbola.

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s