Gara-Gara Main Bola


Main Bola

Tulisan ini saya buat ketika saya masih kuliah, lupa persisnya kapan. Ini tentang pengalaman saya “berdiskusi” dengan ayah saya soal menyoal permainan sepakbola.

Sepulang kuliah kemarin, saya mengalami sebuah kejadian yang entah bagaimana harus saya sikapi. Antara perasaan dongkol dan keinginan untuk tertawa. Bayangkan saja, saya ini sudah mahasiswa, namun masih saja diomeli seperti layaknya anak SD saja. Semua ini terjadi gara-gara ayah saya mendapati sebungkus plastic yang penuh dengan pakaian kotor. Maklum, namanya juga habis main bola. Namun ayah saya tidak mau peduli dengan alasan saya. Dia bahkan mempertanyakan kenapa saya sering sekali main bola dan terkesan melupakan kuliah.

Tidak adil dong kalau saya diam saja. Tanpa bermaksud kurang ajar kepada ayah saya, maka saya menjelaskan alasan kenapa saya bermain bola. Saya bilang, saya main bola itu untuk mengisi waktu luang saya. Daripada saya melakukan hal yang tidak-tidak, begitu saya bilang kepada ayah saya. Kemudian lagi saya melanjutkan ucapan saya. Dalam sepakbola itu diajarkan banyak hal yang positif. Seperti juga dalam bola basket, dan olahraga tim lainnya, sepakbola mengajarkan kekompakan. Bagaimana satu tim saling menjembatani ego dan ambisi pribadi masing-masing personel menjadi tenaga yang menggerakkan usaha menuju keberhasilan.

Pandangan ayah saya mulai berubah. Kembali lagi saya melanjutkan apa yang telah saya sampaikan sebelumnya. Dengan demikian itu melatih kemampuan saya untuk bekerjasama dalam satu tim. Menyeimbangkan ego dan ambisi saya dengan yang lainnya. Dalam sepakbola juga melatih kemampuan berkomunikasi satu dengan yang lain. Jika tidak ada koordinasi dalam sebuah permainan, kita hanya tinggal menunggu kekalahan saja. Dan koordinasi yang baik terjalin dari komunikasi yang baik pula.

Ayah saya kini manggut-manggut. Sepakbola juga melatih diri kita dalam mengatasi tekanan. Melatih kita untuk selalu tenang, betapapun sulitnya keadaan yang sedang dihadapi. Dan yakinlah dalam sepakbola, dalam mengatasi keadaan yang sulit, kita tidak akan pernah sendiri. Karena ada teman-teman saya yang selalu menemani. Kita juga harus mampu mengendalikan emosi kita sehingga tidak merugikan tim yang kita bela, lanjut saya.

Hebatnya lagi, dalam sepakbola tidak ada hal yang tidak mungkin untuk dicapai. Tidak ada kata mustahil dalam sepakbola. Asalkan kita memiliki keyakinan dan kepercayaan diri yang tidak berlebih, banyak hal yang bisa diraih. Seperti halnya tim sepakbola Yunani, yang tidak pernah disangka-sangka akan memenangkan satu pertandingan dalam piala Eropa, malah berakhir menjadi tim yang mengangkat trophy kejuaraan empat tahunan bangsa Eropa tersebut. Dengan ini saya yakin, saya harus optimis terhadap apapun yang sedang saya hadapi. Dan saya tidak perlu merasa minder dengan kekurangan-kekurangan saya, asalkan saya bisa memanfaatkan secara maksimal potensi-potensi yang saya miliki.

Sepakbola juga mengajarkan kebijaksanaan menyikapi menang dan kalah. Menang bukan berarti kita harus berhenti mengembangkan diri dan kita harus terus berusaha. Kalah, bukan berarti larut dalam kesedihan. Kekalahan justru menjadi cambuk untuk terus bekerja keras sehingga bisa menjadi orang yang lebih baik. Lagipula ada pepatah yang mengatakan kekalahan adalah kemenangan yang tertunda.

Ayah saya tersenyum. Nampaknya beliau akan membiarkan saya terus bermain bola. Jarang sekali ayah saya mengakui kekalahan seperti ini. Dia lalu mengatakan, pasti dalam sepakbola ada sebuah pelajaran mengenai tanggung jawab. Yaitu tanggung jawab mencuci perlengkapan saya setelah selesai bermain.

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

4 thoughts on “Gara-Gara Main Bola

  1. Waktu SD saya suka main bola dilapangan keras telanjang kaki sampai banyak luka karena terjatuh saat mengejar bola. Begitu masuk SMP karena badan saya kecil jadi tidak pernah diikutkan main bola sampai sekarang tidak pernah main bola bahkan menontonnya saja malas. Tapi memang betul permainan tim itu sangat mengedukasi.

    Like

    1. Indah sekali kenangan Pak Edi Padmono saat bermain bola ya. Pun begitu dengan saya. Ya salah satu adalah percakapan dengan orang tua saya. Terimakasih Pak Edi untuk ceritanya….

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s