Dampak Implementasi GCG Terhadap Peningkatan Investasi Korporasi


Tata Kelola Perusahaan 2

Beberapa waktu lalu, saya sungguh beruntung mendapatkan kesempatan untuk mengikuti Seminar Dampak Implementasi Good Governance Terhadap Peningkatan Investasi Korporasi & Daerah. Kenapa beruntung? Karena saya bisa bertemu dan mendapatkan pemaparan langsung dari Mas Achmad Daniri, Ketua Komite Nasional Kebijakan Governance.

Kepada para peserta seminar, ia menyampaikan sejumlah permasalahan bangsa yang memiliki kaitan dengan investasi korporasi, yakni adanya stigma bahwa tanpa suap, bisnis tidak berjalan dan kecendurangan bahwa Korupsi dan suap menjadi hal biasa, bahkan dilakukan secara berjamaah.

Trend dari penanaman modal asing di Indonesia sebenarnya selalu berjalan dengan baik, kecuali pada kurun waktu antara tahun 1998 sampai dengan 2004, pada saat krisis perbankan yang berlanjut menjadi krisis ekonomi dan krisis multidimensi. Salah satu hal yang menjadi pembelajaran dari momen krisis tersebut adalah implementasi GCG di Indonesia belum sepenuhnya dijalankan dengan sungguh-sungguh.

Bahkan jika dibandingkan dengan negara-negara lain di Indonesia, implementasi GCG di Indonesia masih terbilang rendah. ACGA’S & CG Watch tahun 2014 menempatkan Indonesia bersama dengan Filipina masih kalah dengan implementasi GCG di Hongkong, Singapore, dan Jepang. Bahkan implementasi GCG di Thailand, dan Malayasia masih lebih baik daripada Indonesia dan Filipina.

Padahal survey yang dilakukan oleh IFC pada tahun 2010 yakni The Emerging Market Investor Survey yang melakukan survey kepada para pengambil keputusan investasi di 29 negara berkembang menyatakan bahwa dirinya mau membayar lebih mahal untuk perusahaan di negara berkembang dibanding perusahaan di negara maju. Sebanyak 55% menyatakan mau membayar 10 % lebih mahal untuk perusahaan di negeri berkembang yang secara konsisten berkomitmen dalam menerapkan tata kelola perusahaan.

Dari survey tersebut juga didapatkan kesimpulan bahwa dalam aspek investasi, penerapan tata kelola perusahaan yang baik sangat menekankan pada pentingnya keterbukaan informasi (prinsip transparansi), transaksi dengan pihak berafiliasi (prinsip indepedensi) serta adanya pemisahan Chief Executive Officer -yang di Indonesia dikenal dengan Presiden Direktur/ Direktur Utama-, dengan Chairman -yang di Indonesia dikenal dengan Komisaris Utama- (prinsip akuntabilitas).

Kenapa GCG menjadi penting untuk dapat meningkatkan investasi korporasi? Pertama, paska krisis financial global di tahun 2008-2009, investor menjadi lebih berhati-hati pada perusahaan di negara yang memiliki masalah dengan GCG. Masih menurut survey yang sama, investor juga menyatakan lebih tertarik untuk berinvestasi di negara dengan implementasi governance yang baik seperti di India, Brasil, Afrika Selatan dan Turki.

Dengan menerapkan tata kelola perusahaan yang baik, maka dengan serta merta pengelolaan perusahaan akan menjadi lebih baik, dimana kredibilitas manajemen meningkat, sehingga akan dapat menarik investor dengan orientasi yang mementingkan jangka panjang (bukan hanya sekedar mencari keuntungan jangka pendek saja) dan juga menarik banyak analisis yang mengikuti perkembangan perusahaan dan pada saat yang bersamaan meningkatkan akses modal sekaligus menurunkan biaya modal.

Dengan demikian GCG dapat menjadi kunci utama untuk mencapai pertumbuhan berkelanjutan dan menicptakan nilai jangka panjang perusahaan karena aspek GCG dipandang sebagai faktor pembeda dengan perusahaan lain karena dapat meningkatkan nilai pasar dan memberikan keunggulan kompetitif. Banyak negara yang memandang implementasi GCG sebagai cara untuk meningkatkan kinerja ekonomi secara keseluruhan. Reformasi yang menekan pada isu spesifik yakni GCG dapat meningkatkan daya tarik suatu negara sebagai tujuan investasi. Investor di negara berkembang bahkan percaya bahwa perusahaan yang menerapkan implementasi GCG dapat menutupi kelemahan governance dari negara tersebut.

GCG telah menjadi faktor penentu dalam pengambilan keputusan berinvestasi di negara berkembang. Investor bahkan bersedia membayar lebih mahal untuk berinvestasi pada perusahaan yang telah menerapkan tata kelola perusahaan yang baik.

Dikembangkan dari paparan Mas Achmad Daniri, Ketua Komite Nasional Kebijakan Governance dalam Seminar Dampak Implementasi Good Governance Terhadap Peningkatan Investasi Korporasi dan Investasi Daera, 24 November 2015.

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Perspektif kini juga bisa di baca melalui Facebook dan Google +

Advertisements

6 thoughts on “Dampak Implementasi GCG Terhadap Peningkatan Investasi Korporasi

  1. Yah itulah kelebihan bank plecit yg sulit dikejar oleh bank2 besar 🙂 kedalaman penetrasi mereka kpada pasar..

    Masalah peradministrasian yang sering mengaburkan bank dalam mengukur kemampuan bisnis kecil mereka jawab dengan strategi menjemput cicilan dengan sistem harian.. Bank plecit mengajarkan kita kreativitas dalam berkompetisi dengan raksasa.. ^_^

    Like

    1. Harus diakui memang industri perbankan besar masih harus meningkatkan lagi akses perbankan. Tapi seperti tadi saya bilang bahwa adanya unit usaha mikro perbankan di pasar merupakan keseriusan industri perbankan di Indonesia untuk dapat semakin dekat denga para pedagang di pasar. Tak lupa juga ada program kemitraan antara Bank Umum dengan Bank Perkreditan Rakyat melalui Linkage Program. Jadi Bank Perkreditan Rakyat menjadi perpanjangan tangan dari bank umum. Bank Indonesia dan OJK juga mewacanakan Branchless Banking yang diharapkan semakin dapat meningkatkan akses masyarakat terhadap produk dan jasa perbankan.

      Like

  2. Mas Roji punya info ga, NPL nya bank2 plecit gitu berapa sih? Kok dari yg saya lihat dan dengarkan dari pedagang2 di pasar jarang bgt yg sampe gagal bayar sama sekali, seburuk2nya cuman molor timing tutup utangnya doank..

    Like

    1. Itulah makanya sulit memonitor bank plecit ini. Tidak ada data-data yang akurat dan spesifik mengenai bank plecit ini. Seringkali tidak resmi dan karenaya tidak bisa terpantau dan termonitor dengan baik. Padahal sudah banyak bank-bank yang sudah memiliki usaha mikro seperti Teras BRI, Warung BJB, Danamon Simpan Pinjam dan Gerai Usaha Mikro Bank DKI yang juga dapat memberikan kredit kepada para pedagang di pasar. Kenapa pada mampu bayar, karena para pedagang itu sebenarnya omzetnya besar. Jika memiliki administrasi dan pembukuan yang baik tentunya kemungkinan naik kelas usaha bisa semakin besar.

      Like

  3. “Investor bahkan bersedia membayar lebih mahal untuk berinvestasi pada perusahaan yang telah menerapkan tata kelola perusahaan yang baik.”

    Bank juga akan lebih mudah mengapprove pinjaman kredit untuk bisnis yang baik tata kelolanya 🙂
    Kecuali bank plecit mungkin :p

    Like

    1. Kalau bank itu kan harus hati-hati dalam menyalurkan kreditnya. Makanya perusahaan yang tata kelolanya baik relatif lebih mudah dalam menjalankan kreditnya. nah kalau bank plecit (rentenir) relatif tidak memperhatikan aspek tata kelola perusahaan

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s