Tentang Pulang Kantor Tepat Waktu


Leave Office On Time

Di LinkedIn, saya menemukan gambar menarik berupa tulisan Always Leave Office On Time yang kurang lebih intinya menyarankan agar para pekerja professional selalu pulang kerja tepat pada waktunya. Gambar itu tentu saja saya berikan jempol tanda saya menyukai gambar tersebut. Maksud saya, siapa yang tidak menyukai pulang kerja tepat waktu, dan siapa juga yang tidak ingin agar bisa selalu pulang tepat waktu. Tapi saya ingin berbagi beberapa perspektif yang berbeda sekedar untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap.

Work is a never ending process. It can never be completed.

Saya setuju bahwa bekerja adalah proses yang tidak pernah berhenti, karena pekerjaan tidak akan pernah bisa diselesaikan. Maksudnya tidak bisa diselesaikan disini tentu saja adalah bahwa pekerjaan akan selalu terus berdatangan. Tapi bukankah bekerja itu sebuah proses pembelajaran, dan proses pembelajaran akan selalu memberikan manfaatnya dikemudian hari.

Interest of a client is important, so is your family

Tentang hal ini, saya tentunya setuju. Kepentingan klien penting, kepentingan keluarga saya juga penting. Tapi juga harus kita sadari bahwa, nafkah yang kita berikan berasal dari perusahaan tempat kita bekerja. Perusahaan tempat kita bekerja mendapatkan profit dari jasa yang mereka tawarkan kepada nasabah, klien, customer ataupun pelanggan. Jadi nafkah yang kita berikan kepada keluarga berasal dari klien kita. Ini semua hanya tentang manajemen waktu dan bagaimana kita bisa memberikan penjelasan kepada keluarga. Selama kita tidak macam-macam, percayalah bahwa tujuan kita baik akan berbuah baik.

If you fall in your life, neither your boss nor client will offer you a helping hands; your family and friends will

Tidak semua atasan atau bos anda bersikap seperti ini. Jika anda memiliki atasan seperti ini, saya ingin sekali menyampaikan simpati saya. Saya pun pernah mendapatkan atasan seperti ini. Tapi untungnya, saya juga pernah merasakan atasan yang sangat baik dan menempatkan diri pada posisi mentor dan sekaligus sahabat. Jadi rasanya tidak semua atasan bisa digeneralisasikan seperti pernyataan diatas.

Life is not only about work, office and client. There is more to life. You need time to socialize, entertain, relax and exercise. Don’t let life be meaningless.

Setuju. Yang ini juga saya setuju. Bahkan saya tidak ada bantahan sama sekali.

A person who stays late at the office is not a hardworking person. Instead he/she is a fool who does not know how to manage work within the stipulated time. He/ she is a loser who does not have a personal or social life. He/ she is inefficient and incompetent in his work.

Kalau yang ini saya sangat-sangat tidak setuju. Jika anda lembur, bukan berarti menandakan anda bodoh, atau tidak tahu bagaimana bekerja dalam waktu yang telah ditetapkan. Kita tahu, pastinya kemampuan orang berbeda-beda dan karenanya waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pastinya berbeda juga. Namun perspektif lain yang ingin saya sampaikan, bahwa pernahkah anda terbayangkan bahwa load kerja setiap orang berbeda-beda, karena faktor kemampuan tadi. Ada orang yang memiliki load kerja lebih tinggi daripada yang lain.

You did not study hard and struggle in life to become a machine

Ya betul sekali, saya tidak belajar keras saat sekolah dan kuliah dan berjuang dalam hidup ini hanya sekedar untuk menjadi mesin atau robot. Tapi bukankah saat anda memilih menjadi karyawan, anda harus mematuhi semua peraturan dan ketentuan yang ada dalam sebuah perusahaan?

Dalam gambar tersebut juga disimpulkan bahwa jika kita pulang kerja tepat waktu, maka kita akan dianggap mampu bekerja secara efisien, diharapkan memiliki kehidupan sosial yang baik dan kehidupan berkeluarga yang berkualitas. Sementara kalau bekerja lembur ya berarti kebalikannya.

Dari pendeskripsian saya diatas, mungkin saya akan terlihat bahwa saya adalah seorang workaholic yang senang pulang larut malam. Tidak, saya tidak senang pulang larut malam, tapi saya akui bahwa saya adalah seorang yang workaholic. Tapi jika boleh saya bertanya, apakah dosa menjadi seorang workaholic?

Soal menyoal pulang larut malam, ijinkan juga saya memberikan sudut pandang lainnya. Ditengah kemacetan kota Jakarta, pulang tepat waktu (sekitar tepat jam 5) naik busway, naik mobil ataupun naik motor adalah perjuangan ekstra. Jika saya beruntung, paling cepat saya berada diperjalanan pulang adalah 2 jam. Jumlah itu bisa bertambah bila ada hujan, atau hal-hal lain. Jadi daripada saya sengsara dijalan, lebih baik bagi saya untuk diam dulu dikantor, sembari mengerjakan pekerjaan (yang barangkali bisa mengurangi beban kerja di esok harinya) atau barangkali bertemu dengan kerabat dan relasi untuk pengembangan usaha ataupun menjalin silaturahmi dengan networking saya.

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Perspektif kini juga bisa di baca melalui Facebook dan Google +

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s