Zero Fraud. Mungkinkah?


Zero Fraud

Fraud atau penyimpangan internal adalah bahaya yang dapat terjadi pada sebuah perusahaan, termasuk tentu industri perbankan. Fraud dapat merugikan perusahaan, tidak hanya berdampak finansial, tetapi juga dapat menurunkan kepercayaan pemangku kepentingan terhadap perusahaan. Setiap fraud juga akan dapat memunculkan fraud-fraud lainnya. Fraud dalam jumlah besar misalnya, dapat mengganggu kinerja perusahaan dan pada akhirnya menurunkan kemampuan perusahaan untuk mensejahterakan karyawannya, sehingga karyawannya merasa terdesak dan terpaksa melakukan fraud karena gelap mata dan tak kuat hati. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah bagaimana cara mencegah, mendeteksi dan kemudian meminimalisir terjadinya fraud dan dampaknya terhadap perusahaan atau bahkan meniadakan fraud sama sekali?

Pencegahan

Yang pertama tentu perlu dilakukan adalah melakukan pencegahan, atau setidaknya dapat mengurangi potensi risiko terjadinya fraud. Pencegahan ini dapat dibangun dengan mengupayakan untuk terciptanya anti fraud awareness atau menumbuhkan kesadaran mengenai pentingnya pencegahan fraud oleh seluruh pihak terkait. Semua unsur di semua satuan kerja harus memiliki kepedulian terhadap pengendalian fraud. Moral dan awareness dari pemimpin terhadap anti fraud ini harus menjiwai setiap kebijakan atau ketentuan yang ditetapkan. Hal ini dapat dilakukan dengan membangun komitmen zero tolerance terhadap fraud, dengan memlakukan seminar atau diskusi.

Yang juga perlu dibangun adalah adanya kesadaran bahwa apa yang anda lakukan dapat berdampak pada orang lain dan juga keluarganya. Jika anda melakukan fraud, jika anda sendiri yang dipenjara, tentu tidak masalah. Tapi jika karena fraud anda menyebabkan ribuan karyawan lain yang ada di perusahaan tempat anda bekerja, terbayang berapa dosa yang harus anda tanggung?

Pencegahan juga dapat dilakukan melalui kebijakan know your employee, yang sekurang-kurangnya mencakup sistem dan prosedur rekrutmen yang efektif untuk mendapatkan gambaran mengenai rekam jejak calon karyawan secara lengkap dan akurat. Sistem seleksi juga perlu dilengkapi dengan kualifikasi yang tepat dengan mempertimbangkan risiko, serta ditetapkan secara obyektif dan transparan. Sistem tersebut harus menjangkau pelaksanaan promosi maupun mutasi, termasuk penempatan pada posisi yang memiliki risiko tinggi terhadap fraud.

Deteksi

Upaya pendeteksian merupakan upaya yang dikembangkan untuk mengantisipasi gagalnya upaya strategi pencegahan. Untuk meminimalisir kerugian yang diderita akibat fraud, perlu adanya sarana yang dapat mengidentifikasi dan mendeteksi secara dini terjadinya fraud tersebut. Pendeteksian ini dapat dilakukan dengan membangun whistle blowing system, melakukan surprise audit, dan membangun surveillance system.

Investigasi, Pelaporan dan Sanksi

Jika kemudian sudah tidak dapat di cegah, dideteksi, langkah selanjutnya adalah melakukan investigasi , melakukan pelaporan dan mengenakan sanksi. Investigasi dilakukan untuk mengumpulkan bukti-bukti yang terkait dengan kejadian yang patut diduga merupakan tindakan fraud. Standar investigasi mencakup penentuan pihak yang berwenang melakukan investigasi dan mekanisme pelaksanaan investigasi.

Hasil investigasi tersebut kemudian dilaporkan kepada manajemen maupun kepada regulator. Dari sini dapat ditetapkan sanksi apa yang diberikan kepada pelaku fraud. Kebijakan pengenaan sanksi ini pun harus diterapkan secara transparan dan konsisten.

Pemantauan, Evaluasi dan Tindak Lanjut

Pemantauan perlu dilakukan terhadap tindaklanjut dari kejadian-kejadian fraud, baik sesuai dengan ketentuan internal perusahaan maupun sesuai dengan ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dari hasil pemantauan ini, perusahaan harus memelihara data kejadian fraud atau fraud profiling untuk dapat digunakan sebagai evaluai. Dari data kejadian fraud dan hasil evaluasi tersebut dapat diidentifikasi kelemahan dan penyebab terjadinya fraud serta ditentukan langkah-langkah perbaikan yang diperlukan termasuk memperkuat sistem pengendalian intern. Evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengendalan fraud perlu dilakukan secara berkala.

Tidak hanya pada fraud-fraud yang terjadi di dalam internal perusahaan, tetapi barangkali dapat juga mempelajari fraud-fraud yang terjadi pada perusahaan lain dan industri lain sebagai bench marking untuk penguatan pengendalian internal atau mencegah fraud berbeda yang terjadi di perusahaan lain dapat terjadi di perusahaan kita.

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s