Tentang Target 100 Hari Kerja


Manajemen 2
Dalam pemberitaan di berbagai media massa, Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani mengatakan bahwa bahwa dirinya tidak menggunakan istilah target 100 atau 1000 hari kerja karena setiap hari pihaknya bekerja. Istilah 100 hari kerja ini barangkali dipopulerkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono kala menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Sebenarnya apakah manfaat 100 hari kerja pertama dalam aspek manajemen atau tata kelola pemerintahan?

Betul, saya setuju terlalu dini untuk menilai kinerja pemerintahan secara menyeluruh dalam kurun waktu 100 hari kerja. Coba tanyakan hal itu kepada Direksi sebuah perusahaan atau Manager Klub Sepakbola. Seorang Direksi Perusahaan pasti akan kesal kalau dinilai keberhasilan ia memimpin hanya dinilai dari kinerja keuangan perusahaan di triwulan pertama. Seorang Jose Mourinho ataupun dulu Alex Ferguson akan marah jika ia hanya dinilai setelah klubnya melakoni 10 pertandingan pertama. Dalam sepakbola Eropa sayangnya, banyak sekali para pemilik klub yang memecat pelatihnya setelah kalah beruntun dalam 10 pertandingan pertama.

Dalam ilmu manajemen (dan berlaku untuk manajemen keuangan, pemasaran, manajemen perusahaan ataupun manajemen pemerintahan) sudah lama dikenal teori POAC (Planning – Organizing – Actuating dan Control) serta bisa juga ditambahkan proses Evaluation. Dalam perencanaan, ada yang dikenal dengan target jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Target-target tersebut tentunya perlu disusun secara bertahap. Target-target tersebut merupakan panduan arah dan sekaligus kontrol terhadap arah yang dituju serta apakah kita sudah berada pada arah yang tepat.

Ambil contoh misalnya perbankan. Target jangka pendek ditetapkan 1 tahun, jangka menengah ditetapkan 3 tahun dan jangka panjang ditetapkan 5 tahun. Target wajib disusun secara realistis dan mempertimbangkan faktor makro, mikro dan kondisi internal sebuah bank. Untuk target 1 tahun pun di bagi lagi menjadi 4 triwulan. Pencapaian kinerja keuangan wajib di publikasikan setiap triwulannya. Dari sisi keterbukaan informasi, hal ini menjadi positif, bagi seluruh pemangku kepentingan bank untuk mengetahui kondisi sebuah bank. Dari sisi manajemen, hal ini akan menjadi kontrol yang sangat efektif. Katakanlah jika misalnya dalam satu tahun menargetkan laba mencapai Rp1 triliun, maka jika dibagi rata 4 triwulan, seharusnya pada triwulan pertama bank tersebut sudah harus mencetak laba sebesar Rp250 miliar. Jika belum tercapai, maka dapat di cek apakah ada yang salah dalam pengelolaan bank tersebut.

Jadi sebenarnya, target 100 hari kerja, maka 100 hari kerja pemerintahan dapat dipersamakan dengan 1 triwulan lebih 10 hari, merujuk kepada pernyataan Mentri tersebut yang mengatakan bahwa setiap hari pemerintahan bekerja untuk rakyat. Setuju. Dan itu baik. Bekerja adalah keharusan. Tapi bekerja tanpa target juga ibarat berjalan dengan mata yang buta. Sekarang kerja keras saja tidak cukup. Harus dengan cerdas dan tuntas.

Target 100 hari kerja ini memang tidak perlu digembar gemborkan. Tapi ada baiknya sebagai bentuk keterbukaan informasi pemerintah kepada masyarakat, instansi pemerintahan perlu mencontoh industri perbankan yang setiap triwulannya melaporkan kinerja keuangannya kepada masyarakat melalui media massa.

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

2 thoughts on “Tentang Target 100 Hari Kerja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s