Kecelakaan Lalu Lintas, GCG dan Pengelolaan Bank


Kecelakaan Lalu Lintas

Saya pasti akan dianggap ngawur, setengah waras ataupun mengada-ada dalam mengkaitkan antara kecelakaan lalu lintas, dengan GCG apalagi dengan perbankan, dua dunia yang terpaut terlalu jauh. Tapi sungguh, saya melihat kecelakaan lalu lintas ada hubungannya dengan praktik GCG dan pengelolaan perbankan. Apa saja kaitannya? Beberapa waktu lalu, kita mendengar adanya kecelakaan lalu lintas yang mengerikan di arteri pondok indah. Sebelumnya kita juga pernah mendengar kecelakaan lalu lintas yang dilakukan oleh anak artis dan pejabat dan juga ada kecelakaan maut disekitar kawasan tugu tani. Kesemuanya sama, menyebab korban jiwa yang sangat kita sesalkan.

Jika berlalu lintas dapat kita persamakan dengan konteks GCG dimana pengertian paling awam mengenai GCG adalah bicara mengenai struktur dan peraturan, maka berlalu lintas pun sama. Kita sebagai pejalan lalu lintas harus mematuhi peraturan lalu lintas yang dibuat oleh Dirjen Perhubungan dan Kepolisian sebagai regulator yang mengatur. Tidak ada bantahan mengenai itu. Kemudian GCG dan juga pengelolaan perbankan mengatur dan mengharuskan bahwa perusahaan dan juga termasuk perusahaan bank dikelola oleh orang-orang yang berkompeten, maka berkendara dan berlalu lintas pun sama.

Dalam berkendara, ada karakter-karakter yang wajib dipenuhi. Memiliki kompetensi atau mampu mengendarakan dengan baik adalah yang terutama tentunya. Memberikan kendali mobil ataupun motor kepada orang yang tidak bisa membawa kendaraan adalah resep awal untuk bencana yang tidak kita kehendaki. Bisa mengendarai kendaraan bermotor dengan baik saja, masih diselimuti dengan risiko kecelakaan yang tidak kita inginkan, apalagi mengendarai dibawah pengaruh obat-obatan yang terlarang.

Ditambah ketidakmatangan dalam memutuskan sesuatu, menjadi bumbu yang dahsyat yang dapat menimbulkan bencana atau kecelakaan lalu lintas yang sama-sama tidak pernah kita inginkan. Kalau dalam GCG itu berarti setiap proses pengambilan keputusan harus dilaksanakan secara independen, tanpa adanya pengaruh dari pihak lain. Pengaruh ketidakmatangan itu bisa menyebabkan ketidaksabaran dan ketidak hati-hatian dalam berkendara. Membawa mobil terlalu cepat misalnya tanpa memperhitungkan kondisi fisik jalanan, kondisi kendaraan yang kita pergunakan dan juga tingkat kecepatan dan posisi para pengguna jalan raya yang lain dapat menyebabkan kecelakaan yang tidak kita inginkan. Patuhilah peraturan lalu lintas termasuk diantaranya dengan tidak menggunakan jalur busway.

Dalam perbankan juga begitu, dalam memberikan kredit misalnya secara terburu-buru tanpa mengindahkan manajemen risiko adalah resep maut kredit macet. Yang juga terpenting adalah menyadari bahwa ketika kita berada dalam kendaraan, kita harus menyadari bahwa apa yang kita lakukan dapat berdampak pada orang lain. Kalau dalam bahasa kerennya, punya dampak sistemik.

Jadi ketika kecelakaan lalu lintas, bukan hanya jiwa saja yang hilang. Kita bisa kehilangan seorang ayah, ibu, suami, istri, anak, pacar, seorang karyawan berprestasi, seorang calon pemimpin bangsa, seorang rakyat Indonesia yang barangkali saja seandainya tidak menjadi korban dalam kecelakaan lalu lintas, bisa menjadi seseorang yang membawa perubahan untuk Indonesia. Ya umur memang tidak ada yang tahu. Tapi terlalu murah rasanya jika jiwa melayang hanya karena kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh pengendara yang tidak bertanggung jawab. Jadi patuhilah peraturan lalu lintas.

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s