Kreativitas (Bukan) Untuk Menghina


Kreativitas

Yang namanya kreativitas itu hendaknya dipergunakan kebaikan. Bukannya untuk menghina. Sayangnya, apa yang kita lihat di sosial media ataupun acara televisi menunjukkan barangkali belum semua dari kita dapat menunjukkan kedewasaan. Beberapa kejadian bullying di sosial media seperti bullying mengenai Bekasi yang ditunjukkan dalam berbagai platform sosial media dan kemudian secara gegabah diulang lagi oleh salah satu perusahaan besar dalam iklan di akun sosial media resmi perusahaan.

Alhasil, perusahaan tersebut mendapatkan kecaman yang luar biasa dan karenanya harus melakukan aktivitas komunikasi atau public relations yang lebih untuk menanggulangi dampak negatif dari iklan tersebut untuk image perusahaan. Yang patut diapresiasi, adalah perusahaan tersebut, melakukan secara cepat penanganan krisis komunikasi.

Beberapa acara ditelevisi juga menunjukkan betapa kita sangat kreatif sekali kalau soal hina menghina. Menonton orang yang berbicara di panggung, masing-masing menghina satu sama lain, sungguh merupakan tontonan yang sudah dianggap layak. Hal ini karena masyarakat kita teramat sangat membutuhkan hiburan. Tapi apakah untuk menciptakan acara yang menghibur harus penuh dengan isi-isi yang tidak mendidik seperti menghina orang lain (walaupun dalam konteks bercanda).

Bicara mengenai kreativitas memanglah sangat abstrak, dan sangatlah subyektif. Sulit sekali untuk merumuskan apa yang dapat dianggap mengandung kreativitas atau tidak. Dilihat dari kata dasarnya, kreatif menurut bahasa Indonesia adalah memiliki daya cipta, memiliki kemampuan untuk menciptakan, atau bersifat (mengandung) daya cipta, atau pekerjaan yang menghendaki kecerdasan dan imajinasi. Bisa disimpulkan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan karya sesuatu yang baru.

Namun yang namanya kreativitas tentu hendaknya memerlukan batasan-batasan yang harus dipatuhi dengan baik. Batasan-batasan itu hendaknya yang tidak memiliki ketersinggungan terhadap Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA). Hendaknya dalam mengutamakan kreativitas, kita juga mengutamakan kepekaan atau sensitivitas, dengan merujuk kepada pantas atau tidak pantas. Kreatif boleh, tapi kalau tidak pantas, hendaknya jangan di posting di social media atau di publikasikan kepada orang banyak.

Kreativitas tidak akan berkembang, jika terlalu banyak peraturan atau terlalu banyak batasan? Bisa iya, bisa tidak. Tergantung pada kreativitas anda. Bukanlah kreativitas namanya jika dibenturkan pada norma atau peraturan langsung menciut. Justru banyaknya peraturan memancing anda untuk berpikir lebih dalam, berpikir lebih kreatif lagi. Tantanglah diri anda untuk dapat berpikir di luar kotak, bahkan berpikir tanpa kotak.

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s