Ketika Keberpihakan Itu Penting


Saya pernah mendapatkan satu nasihat yang penting dari seorang sahabat, sebuah kata yang tak terlalu saya gubris ketika itu. “Keberpihakan itu perlu”. Nasihat itu sudah disampaikan sejak lama, tapi kata “keberpihakan itu perlu” walaupun saya tidak mengerti maksudnya apa, tetapi tiga kata itu sangatlah menarik dan tak heran tersimpan didalam benak saya.

Barulah kata-kata ini kembali mengiang didalam pikiran saya, dan menancapkan dengan jelas, tepat dikala momen pesta demokrasi ini. Pesta demokrasi yang seharusnya berjalan dengan baik, dimana orang bebas untuk menyampaikan pendapatnya, bebas menyampaikan pilihannya. Namun yang terjadi adalah saling memfitnah, mencaci maki, merasa diri paling benar.

Semua informasi menjadi simpang siur, semua informasi dipertanyakan kredibilitasnya sebegitu tajamnya. Semua informasi menjadi begitu gamang, menjadi begitu membingungkan, mana yang mau kita jadikan sebagai referensi untuk memilih pemimpin kita. Yang lebih menyesakkan lagi, banyak dari kita yang langsung menelan mentah-mentah informasi yang belum tentu benar.

Benar atau salah pun menjadi kata yang “semau gue aja”. Kalau calon saya dijelek-jelekkan maka itu sudah pasti salah, meskipun sebenar apapun disampaikan. KITA MASIH BELUM DEWASA.

Ditengah-tengah perbedaan opini yang semakin meruncing, dengan seliweran informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya satu sama lain, lebih baik mengambil jalan tengah, seperti netral dan tidak mengutarakan pendapat apapun dan tidak mengutarakan siapa yang mau dipilih sampai kemudian nanti memilih sesuai dengan aspirasi pribadi sembari tentunya (diharapkan) memperkaya wawasan untuk menjadi referensi memilih nantinya dengan terus mengumpulkan berbagai informasi.

Atau jika mau lebih aman lagi kenapa tidak sekalian golput atau tidak memilih. Menjadi golput pun ada beberapa tingkatan, anda bisa secara terang-terangan tidak datang ke tempat pemilihan nantinya, dan dengan tidak mencelupkan jari anda ke tinta, seluruh teman-teman anda akan tahu bahwa anda adalah golput. Cara yang lebih halusnya lagi, tetap datang ke tempat pemilihan dan tidak mencoblos, atau mencoblos kedua gambar calon pemimpin, tapi tetap mencelupkan jari anda ke tinta, dan setidaknya anda akan dianggap orang bukan sebagai golput.

Cara pertama atau dengan menjadi swing voters nampaknya lebih aman untuk dilakukan daripada anda memilih berkecamuk dilini massa yang isinya tidak lain tidak bukan adalah seputar No. 1 dan No. 2 saja. Setidaknya tetap baik untuk menjaga pertemanan, ataupun hubungan kerja ataupun hubungan bisnis. Setidaknya jika anda berada diantara kedua simpatisan, anda bisa mendelay jawaban yang anda harus berikan. Pilihan saya, saya simpan untuk Indonesia. Kira-kira begitu jawaban dramatisir yang harus anda ucapkan untuk simpatisan.

Tapi akhir-akhir ini kok rasanya saya tidak sreg. Jika sebelumnya dalam pemilu terakhir, saya adalah golput, entah kenapa ada perasaan dalam diri saya yang seolah mewajibkan saya untuk menentukan sikap, dan berpihak pada SATU calon. Saya dulu, adalah golput parah dan sama sekali tidak pernah mengikuti pemilu, baik itu untuk memilih Presiden, Legislatif, Gubernur. Oh iya, pemilihan ketua RW pun saya tidak pernah ikut.

Saya dan seorang teman (yang juga kebetulan mendeclare tahun ini akan menjadi golput) pernah berbincang mengenai golput ini. Menjadi golput katanya seringkali dibilang tidak memiliki tanggung jawab, tidak memiliki kepedulian terhadap bangsa ini. Teman saya itu pun marah-marah. Saya tidak tahu isi hati teman saya itu, tapi kalau saya sih dulu menjadi golput, karena saya bisa bilang keteman-teman saya yang ikutan memilih tuh kan salah milih.

Tapi begini analoginya, sebutlah pemilihan presiden ini adalah sebuah pertandingan sepakbolanya, para pendukung calon presiden adalah pemain bolanya, dan para golput itu adalah penontonnya. Mereka bukannya tidak peduli, tetapi hanya ingin tidak terlibat secara langsung. Untuk itu teman saya, dan siapapun yang memilih untuk tidak memilih, haruslah dihargai pendapatnya. Yang tidak boleh kan menghasut orang untuk menjadi golput.

Kecenderungan saya kepada salah SATU calon memang sudah ada dalam satu minggu terakhir ini. Dengan mempertimbangkan banyak hal :
• Orang tua saya tidak pernah memilih partai ini (dan karenanya siapapun calon yang diusung oleh partai ini tidak akan pernah saya pilih)
• Keluarga besar istri mayoritas memilih calon presiden yang sama yang makin memantapkan saya untuk memilih calon presiden
• Interpretasi saya akan berbagai informasi yang saya terima
Sebagai seorang muslim, warga negara Indonesia, sebagai seorang anak, seorang suami, dan juga seorang ayah demi mendukung Indonesia memberikan masa depan yang lebih layak untuk anak saya,

Bismillahirohmanirohim, saya mendukung SATU. Prabowo Subianto. Untuk Indonesia Bangkit.

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s