The Last Minute Stamina Yang Membedakan


Never-Give-Up-on-Your-Dreams-300x225

Ditengah proses menyusun Annual Report 2013 Bank DKI, dalam upaya mencetak gelar hattrick ARA tahun ini, ditengah-tengah proses mantengin layout dan ngeberesin content hasil revisi yang bolak-balik, ada kabar gembira yang saya dengar. Memang bukan terkait kerjaan, tetapi soal saya menjadi pendukung Manchester United dimana akhirnya David Moyes yang di lengserkan dari manager Manchester United. Halah, sempet-sempetnya ngurusin MU lagi deadline padet begini.

Tapi beneran, jadi pendukung MU musim ini emang rada-rada ngenesin, bolak-balik kalah, strategi gak keruan, gerah ngeliat pemain MU yang udah di gaji mahal tapi ogah-ogahan memberikan yang terbaik. Beda rasanya melihat permainan MU jaman Alex Ferguson dan David Moyes. Tim MU ala David Moyes, begitu ketinggalan kurang terlihat semangat juangnya, seolah ikhlas dikalahkan begitu saja.

Semangat juang, pantang menyerah sebelum peluit terakhir dibunyikan adalah salah satu ciri khas tim MU jaman Alex Ferguson. Contoh yang paling kemasyhur, menjadi bukti bahwa selalu ada harapan disetiap saat, selalu ada peluang disetiap tantangan, selalu ada kebangkitan untuk mereka yang mau berjuang sampai titik darah penghabisan adalah ketika final Liga Champion musim 98/99 kala bentrok lawan Bayern Muenchen.

Malam itu, MU berjuang habis-habisan sampai detik terakhir, ya bukan menit tapi detik terakhir. Disaat semua orang mengira mereka sudah pasti akan kalah, mereka terus menerus berjuang. Saya masih ingat, dari menit ke 6 sudah dijebol oleh Mario Basler, beberapa peluang yang membahayakan sering kali dilancarkan Bayern Muenchen. Tapi Manchester United terus merangsek, terus menerus berjuang hingga akhirnya keajaiban terjadi dimana mereka mampu mencetak 2 gol di tambahan waktu. Mereka percaya bahwa mereka bisa menang dan karenanya menolak untuk kalah. Masalah menang atau kalah itu lain hal, kepercayaan untuk bisa menang adalah hal yang lain lagi.

Tapi kepercayaan untuk bisa menang itu memang membutuhkan upaya yang melelahkan dan pengorbanan yang tidak sedikit. Menolak untuk menyerah disaat semua tenaga sudah habis dan yang tersisa tinggallah semangat saja. Tapi semangat itu yang mampu menggerakkan semua semesta untuk turut mendukung. Di 3 menit terakhir itu Manchester Unitedlah yang menjadi korban dan Bayern Muenchenlah yang menjadi terdakwa. Seolah semesta turut mendukung perjuangan Manchester United dan seolah Bayern Muenchen memang harus kalah malam itu.

Dibutuhkan last minute stamina untuk mampu terus merangsek, dan berjuang untuk setidaknya tidak menyesal karena tidak memberikan yang terbaik, karena tidak berjuang hingga titik darah penghabisan.

Begitu juga saya melihat tim ARA ini. Saya tahu mereka sudah lelah, saya tahu mereka rindu keluarganya. Tapi ada dorongan. Mereka tidak hanya ingin sebuah buku bernama Annual Report ini selesai. Mereka ingin ini menjadi sebuah karya. Last minute stamina adalah passion anda, adalah tekad dan keinginan anda yang entah bagaimana memungkinkan semesta untuk mendukung semua cita-cita anda. Jadi disaat revisi begitu banyak dan berulang kali bolak-balik, disaat masih saja ada data-data yang kurang, dan disaat disemprot itu biasa, anda akan abaikan semua faktor itu dan merangsek pelan-pelan menyelesaikan halaman demi halaman yang direvisi, di layout ulang sampai akhirnya mampu mewujudkan sebuah buku bernama Annual Repot, eh Annual Report.

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s