Are We Robot?


robot

Kata orang hidup itu hanya sekali, dan hidup itu memang untuk dinikmati. Bayangkan kegembiraan dimasa kecil, bercanda dan tertawa setiap hari dimana yang hanya kita pikirkan hanya bermain dan bermain. Hidup itu memang hanyalah sebuah permainan yang kita bawa pada level selanjutnya, ketika umur kita makin bertambah dari hari kehari. Namun di saat itu, permainan yang kita lakukan justru kehilangan esensi utamanya, kesenangan.

Ya, memang benar, ketika umur bertambah, maka tuntutan dalam jumlah yang semakin banyak mengikutinya, kesenangan dalam melakukan sesuatu perlahan terkikis. Rutinitas kehidupan sehari-hari dan kewajiban yang datang bersamanya bisa jadi salah satu penyebabnya. Kewajiban untuk memainkan peran tertentu dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat membuat kita menjadi semakin bermuka dua, memasang topeng yang menutupi wajah kita yang sebenarnya. Menutupi kegembiraan yang pernah kita rasakan semasa kita masih menjadi anak kecil. Senyum, tertawa riang, penuh dengan kegembiraan dan kesenangan.

Kehidupan adalah sesuatu yang menjadi terprogram, oleh kita sendiri dan oleh interaksi diri kita dengan orang lain. Ya betul memang kita adalah makhluk sosial yang memiliki peran tertentu, kewajiban tertentu yang bila kita tidak melaksanakannya kita akan mendapatkan stigma buruk dari pelaku makhluk sosial lainnya. Kita menjadi palsu, dan pernahkah kita bertanya pada diri kita, siapakah diri kita yang sebenarnya? Lalu pernahkah kita menyadari bahwa kita tidak lain hanya menjadi alat untuk mencapai tujuan dari sesuatu kekuatan yang mengatur kita, apapun itu. Kepentingan ekonomi suatu negara, kepentingan komersil dari kapitalisasi sebuah perusahaan, kepentingan pandangan sosial, politik suatu organisasi tertentu.

Jika anda memiliki pendapat, bahwa anda memiliki self freedom, coba pikirkan lagi? Yakinkah diri anda bahwa pilihan-pilihan yang anda lakukan dalam hidup anda, adalah pilihan yang berasal dari keingin murni di hati kecil anda? Apa kemeja yang anda pakai, apa blazer yang anda kenakan hari ini, apa merek handphone anda, berapa anda harus memiliki handphone, di Bank mana anda harus menabung, rumah sakit apa yang anda akan pilih, setiap sabtu dan malam minggu anda pergi ke mall, restoran mana yang akan anda pilih, rokok apa yang anda hisap, jam tangan merek apa yang anda gunakan, dimana anda akan bekerja, apa pandangan sosial politik anda dan masih banyak pertanyaan lainnya.

Apakah anda yakin dari jawaban untuk semua pertanyaan tadi, anda jawab sendiri. Apakah anda tidak terpengaruh oleh banyaknya pesan komunikasi yang disampaikan oleh perusahaan penyedia jasa dan produk yang jumlahnya milyaran diseluruh dunia, mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut, mulai dari apa yang anda lihat hingga anda rasakan? Anda masih merasa yakin bahwa pilihan-pilihan yang anda lakukan berasal dari kesadaran murni anda?

Apakah anda menggunakan logika untuk setiap jawaban anda? Kenapa anda mau membayar mahal untuk kopi yang anda minum, sepatu hak tinggi yang anda kenakan hari ini, dan juga sepatu-sepatu lainnya yang tersimpan dengan rapi dan manis dilemari anda? Lalu kenapa anda lebih memilih produk A daripada produk B, atau sebaliknya? Kenapa anda memilih bekerja di perusahaan A daripada perusahaan B, C ataupun Z? Kenapa anda memilih profesi tertentu, yang kadang tidak sesuai dengan cita-cita kita di masa kecil?

Lalu pernahkah dilubuk hati anda yang paling dalam, kembali anda menanyakan siapa diriku sebenarnya? Pernahkah anda merasa bahwa senyum anda itu palsu, bukan dari ketulusan hati yang paling dalam? Senyum yang anda lakukan hanya untuk menyenangkan klien, mencari klien baru, yang pada akhirnya membuat kekuasan yang lebih tinggi dari anda senang kepada anda? Pernahkah anda menawarkan produk anda yang anda yakini hanya akan menambah penderitaan bagi orang yang menggunakan produk anda, hanya karena anda dibayar untuk itu, tentunya uang yang dibayarkan kepada anda akan lari kepada orang-orang yang terdekat dengan anda? Jadi seperti buah simalakama bukan?

Ya, kita memang robot yang terprogram oleh robot-robot lainnya disekeliling anda, disamping anda dan juga oleh robot yang sedang anda baca tulisannya ini.

Best Regards,
Welcome to the capitalisation Era…

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s