Meningkatkan Ecological Good Governance : Mengajak Kita Patuh dan Peduli Terhadap Lingkungan


lingkungan-hidup

Membaca editorial Media Indonesia terbitan hari ini, Kamis, 16 Januari 2014 yang bertajuk “Pertobatan Ekologis” membuat saya tergerak untuk mengajak kita semua (termasuk saya) untuk lebih memperhatikan lingkungan kita, karena suka tidak suka, lingkungan memberikan dampak bagi kita semua (termasuk saya).

Meskipun, Alhamdulillah saya bersyukur daerah tempat tinggal saya, di Pondok Labu, Jakarta Selatan tidak terkena banjir yang melanda sebagian wilayah kota Jakarta beberapa hari yang lalu. Tapi dampaknya juga saya rasakan, akses jalan hari Senin lalu, 13 Januari 2014 terganggu akibat adanya genangan air yang menyebabkan kemacetan cukup parah di berbagai titik strategis. Saya pun turut menyampaikan simpati yang sebesar-besarnya kepada warga DKI Jakarta yang terkena musibah bencana banjir, juga kepada korban bencana banjir bandang yang melanda kota Manado, Sulawesi Utara.

Dalam editorial Media Indonesia hari ini, dituturkan musibah/bencana alam banjir yang terjadi di Manado, Sulawesi Utara dan juga berbagai wilayah lain di Indonesia, terjadi bukan datang karena tanpa sebab. Media Indonesia menuturkan banjir datang bersama dengan hilangnya wilayah resapan air berupa hutan lindung dan hutan tutupan. Media Indonesia mengajak kita semua melakukan pertobatan ekologis dengan berbagai cara seperti menghentikan deforestasi, menghentikan konversi lahan menjadi pemukiman, serta membersihkan dan memperbaiki kualitas selokan dan drainase.

Upaya mengurangi kuantitas dan kualitas banjir sejatinya juga dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, bahkan menjadi salah satu prioritas penting program kerja Pemprov DKI Jakarta. Setiap langkah strategis saya kira telah diperhitungkan dampak dan konsekuensinya, seperti misalnya memindahkan penduduk yang tinggal di bantaran sungai, sudah diperhitungkan dampaknya dengan menyediakan rumah susun. Dengan wilayah-wilayah sekitar seperti bogor, tanggerang, depok juga diperhitungkan sebagai langkah dan upaya untuk menangani banjir, seperti misalnya rencana Pemprov DKI yang ingin membeli tanah seluas 90 hektar di kawasan Depok. Secara konkrit, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi DKI Jakarta menyebutkan, titik banjir di Jakarta sudah surut menjadi 35 titik, menurun dari 62 titik.

Dalam sebuah wawancara, terkait dengan penanganan banjir Jakarta yang turut melibatkan Bodetabek dan sekitarnya, Mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso menuturkan pernah mengutarakan pendapat agar Gubernur DKI Jakarta menjadi pejabat setingkat menteri yang memiliki wewenang atas Jabodetabek dan sekitarnya, hal ini tentunya dalam kaitan penanganan banjir yang memerlukan dukungan dari wilayah-wilayah disekitarnya.

Ecological Good Governance

Menangani banjir dan juga mengantisipasi agar tidak lagi terjadi banjir atau setidaknya dapat mereduksi titik banjir tidaklah mudah, dan tidaklah bisa dilakukan oleh satu pihak manapun, satu pemerintahan manapun sendirian. Diperlukan kesadaran Ecological Good Governance dari masing-masing pihak yang terkait, baik itu dalam skala instansi pemerintahan, ataupun juga kita pribadi perorangan juga perlu melakukan ecological good governance. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang sudah mengalokasikan anggaran sebesar Rp45 Miliar kepada daerah penyangga terkait dengan penanganan banjir patut diapresiasi. Hal ini menunjukkan kesadaran dan langkah konkrit dari Pemprov DKI Jakarta mengenai perlunya koordinasi antar wilayah untuk mau mengurai permasalahan dari akarnya.

Jika Media Indonesia mengajak kita semua untuk melakukan tobat ekologis, saya mengajak kita semua (termasuk saya) untuk melakukannya bersama-sama. Dari level pemerintahan yang saling berkoordinasi menerapkan ecological good governance, melalui berbagai langkah strategis dan kebijakan-kebijakan terkoordinasi dan terintegrasi. Dunia korporasi pun semakin banyak yang sadar pentingnya go green, dan aspek kepatuhan terhadap dunia usaha yang berkaitan dengan eksplorasi lingkungan hidup perlu terus menerus di tingkatkan.

Termasuk diantaranya pemenuhan aspek kepatuhan (baca : kesadaran masyarakat) terhadap berbagai peraturan yang ditetapkan oleh Pemerintah mengenai kebersihan seperti larangan membuang sampah sembarangan. Saya setuju jika Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengenakan denda untuk warga yang membuang sampah sembarangan. Hal ini sepele, membuang segelas botol plastik ataupun cuma sepuntung rokok sembarangan masa iya bisa jadi menyebabkan banjir? Tapi bayangkan apa jadinya jika seratus orang berpikiran hal yang sama? Seribu? Seratus Ribu? Sejuta Orang? Apa iya tidak jadi menyebabkan selokan jadi mampat? Hal kecil dapat merubah banyak. Hal kecil yang baik dapat membawa kebaikan yang lebih besar. Kontribusi anda terhadap kebersihan sangat berarti.

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s