Menanggapi Surat Terbuka Robin Hartanto kepada Pak Wakil Gubernur


Untuk Robin Hartanto, saya kagum dan mengapresiasi surat terbuka anda untuk Pak Wakil Gubernur DKI Jakarta, Pak Basuki.

http://id.berita.yahoo.com/surat-terbuka-untuk-wakil-gubernur-jakarta-103544914.html

Ini tanggapan saya :

Pastinya akan selalu ada pro kontra yang menyikapi surat terbuka yang menggambarkan pendapat anda. Secara pribadi saya memandang surat anda, menyiratkan saran yang lebih mendalam daripada sekedar anjuran Pak Basuki untuk mengikuti instruksi Pak Jokowi, lebih mendalam daripada sekedar informasi rute (yang sebenarnya juga bermanfaat), dalam surat anda ada saran yang sudah lama digaungkan masyarakat Jakarta, yakni perlunya sarana transportasi yang aman dan memberikan kenyamanan serta efektif, cepat dan murah (meskipun harga murah ya relatif). Saya pun telah membaca (meskipun tidak semuanya) mengenai pendapat-pendapat sebagai bentuk tanggapan atas surat terbuka anda. Saya mencoba untuk mengajak orang-orang yang telah memberikan komentar atas surat terbuka Robin Hartanto ini untuk melihat dari berbagai perspektif yang semoga melengkapi pertimbangan anda.

Perspektif Peraturan

Perspektif Peraturan yang menyatakan setiap PNS dilarang untuk naik kendaraan umum pada hari jumat selama 1 kali dalam sebulan. Mohon saya dikoreksi kalau saya salah. Sepengetahuan saya, peraturan tersebut memang menyebutkan peraturan tersebut diuntukkan adalah untuk PNS. Sedangkan Wakil Gubernur (dan juga Gubernur) DKI Jakarta memang tidak termasuk dalam kategori tersebut.

Perspektif Kepemimpinan

Beralih dari perspektif peraturan tersebut, betul memang peraturan tersebut menyatakan Pak Basuki tidak memiliki kewajiban karena tidak menjadi subjek dari peraturan tersebut, tetapi rasanya Pak Jokowi yang juga tidak menjadi subjek peraturan tersebut mau melakukan dan mau memberikan contoh dan teladan. Ini merupakan contoh teladan kepemimpinan, yang mana dalam banyak hal Pak Basuki juga memberikan contoh teladan kepemimpinan yang sangat baik. Alangkah lebih baik sekiranya Pak Basuki juga berkenan untuk melakukan hal tersebut.

Perspektif Protokoler/ Perspektif Keamanan

Ada komentar yang membahas mengenai aspek protokoler dan keamanan Pak Basuki. Betul itu, saya pun juga setuju, Pejabat Publik tentu perlu pengawalan atas keselamatan pribadi, mengingat tanggungjawab yang diemban sangat berat. Para ajudan/pengawal/protokol pejabat publik pun akan melakukan hal yang sama. Tetapi tentu para ajudan/pengawal/protokol pejabat publik pun punya standar operasi untuk pengamanan pejabat publik. Yang diminta sama Pak Jokowi kan Pak Basuki naik kendaraan umum, bukan naik kendaraan umumnya sendirian. Dalam arti, naik kendaraan umum apapun Pak Basuki tetap wajib di kawal. Bisa saja kan Pak Basuki naik sepeda, tapi dikawal oleh Polisi misalnya. Ini untuk orang-orang yang menjawab surat anda dengan kekhawatiran akan keselamatan Pak Basuki.

Perspektif Pencitraan

Ada juga yang menjawab Pak Basuki tidak naik kendaraan umum karena tidak ingin dibilang munafik atau takut di anggap sebagai pencitraan saja. Rasa-rasanya itu tentunya kembali ke niatan masing-masing orang atau dalam hal ini pejabat publik. Pak Basuki rasanya tidak perlu khawatir akan dibilang sebagai pencitraan atau jangan khawatir takut dibilang munafik. Warga Jakarta tentunya sudah semakin cerdas, bisa menilai mana yang tulus dan mana yang pencitraan.

Terlepas dari semua perspektif tersebut, semua orang bebas berpendapat, dan masukan dari Robin Hartanto hendaknya diposisikan sebagai saran yang membangun. Tidak ada seorangpun yang sempurna. Marilah objektif dalam memandang sesuatu, ataupun memandang seseorang, baik itu seorang Robin Hartanto ataupun seorang Pak Basuki.

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

One thought on “Menanggapi Surat Terbuka Robin Hartanto kepada Pak Wakil Gubernur

  1. Terima kasih atas tanggapannya, fakhrurrojihasan. Saya senang sekali bisa mendapat tanggapan darimu. Betul seperti katamu, tujuan utama saya menulis memang bukanlah memaksa Ahok untuk naik kendaraan umum. Itu terlalu naif dan romantik. Lebih penting dari itu, saya ingin menyampaikan situasi, kritik, dan saran terkait dunia perangkutan-umum kita, hanya saja dengan cara yang berbeda. Kalaupun kemudian apa yang pembaca tangkap meleset dari maksud awal saya, itu risiko yang saya sadari ketika memilih untuk menuliskannya dengan cara semacam itu, dan oleh karena itu tanggapanmu penting untuk menjelaskan secara jernih isi surat tersebut.

    Sekali lagi, terima kasih.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s