8 Langkah Mengembangkan Perbankan Syariah di Indonesia


Perbankan Syariah

17 November 2013 dapat dikatakan menjadi momentum yang perlu dimanfaatkan dengan baik para pelaku ekonomi syariah. Hari itu merupakan pencanangan Gerakan Ekonomi Syariah atau GRES! Yang dicanangkan oleh Bank Indonesia dan Pusat Ekonomi Syariah. Perekonomian syariah di Indonesia sejatinya masih dan akan terus berkembang termasuk industri perbankan syariah yang memiliki pangsa pasar 5%, masih terbilang kecil dan perlu terus ditumbuhkembangkan. Bahkan angka tersebut jauh dibawah perbankan syariah di Malaysia yang menikmati 20% pangsa pasar.

Awal tahun 2013 Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan perbankan syariah tahun 2013 tetap mengalami pertumbuhan yang relatif cukup tinggi berkisar antara 36% – 58%. Hingga September 2013 target pertumbuhan tersebut nampaknya akan sulit tercapai. Dilihat dari asetnya, berdasarkan Data Statisk Perbankan Indonesia yang diterbitkan oleh Bank Indonesia, pertumbuhan aset perbankan syariah  antara Desember 2012 sampai dengan September 2013 baru mencapai pertumbuhan 16,76% dari Rp195,02 triliun pada Desember 2012 menjadi Rp227,71 trilin pada September 2013. Untuk mencapai target pertumbuhan aset sebesar 36% saja, berarti akhir tahun 2013 aset perbankan syariah harus mencapai diatas Rp260 triliun.

2013 ini Bank Indonesia telah menyusun berbagai rencana dan pendekatan strategis untuk meningkatkan pertumbuhan perbankan syariah pada pembiayaan perbankan syariah yang lebih mengarah kepada sektor produktif dan masyarakat yang lebih luas, pengembangan produk yang lebih memenuhi kebutuhan masyarakat dan sektor produktif, transisi pengawasan yang tetap menjaga kesinambungan pengembangan perbankan syariah, revitalisasi peningkatan sinergi dengan bank induk dan peningkatan edukasi dan komunikasi. Pendekatan strategis Bank Indonesia ini memang merupakan jawaban dari berbagai permasalahan yang dialami oleh perbankan syariah.

Melalui berbagai pendekatan ini, dapat di simpulkan beberapa langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk meningkatkan pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia.

Memperluas Jaringan

Perbankan Syariah dinilai belum menjangkau secara luas. Dari Desember 2012 hingga September 2013,  tidak ada jumlah penambahan Bank Umum Syariah, jumlah Unit Usaha Syariah malah turun dari 24 UUS pada Desember 2012, menjadi 23 UUS, dan hanya ada penambahan 2 BPR Syariah. Dari sisi pertumbuhan jaringan kantor, terdapat pertumbuhan jumlah jaringan kantor sebanyak 246 kantor dengan rincian sebanyak penambahan 192 kantor BUS, 42 kantor UUS, dan 12 kantor BPRS.

Revitalisasi Sinergi dengan Bank Induk

Kendala lain yang sering dihadapi oleh perbankan syariah, adalah sinergi dengan bank induknya. Hal ini khususnya sering dialami oleh Unit Usaha Syariah. Bank Indonesia sebagai regulator memang juga telah menekankan hal ini. Bentuk sinergi antara Bank Syariah dengan Bank induknya dapat dilakukan dalam berbagai hal seperti kebijakan untuk terus melaksanakan cross selling, ataupun penyetaraan produk dengan dukungan infrastruktur seperti perluasan jaringan kantor ataupun melalui peningkatan jumlah office channeling, pengembangan infrastruktur teknologi dan kebijakan sumber daya manusia.

Pengembangan Produk

Untuk produk perbankan syariah yang selama ini dinilai baru sebatas menjadi follower dari produk perbankan konvensional, atau dalam kata lain perbankan syariah jangan hanya mengeluarkan produk versi syariah dari produk perbankan konvensional. Perbankan syariah harus lebih kreatif dalam mencari celah-celah bisnis supaya bisa bersaing dengan bank konvensional dan berinovasi menciptakan produk baru serta memanfaatkan momentum-momentum khusus untuk pemasaran produk syariah, seperti saat Tahun Baru Islam, bulan Ramadhan ataupun Idul Adha. Namun tidak hanya untuk kalangan muslim saja, produk perbankan syariah sebaiknya juga dapat ditujukan untuk nasabah non muslim misalnya.

Pembiayaan Yang Lebih Bersifat Produktif

Acapkali kita sering mendengar bahwa sektor riil memiliki ketahanan yang baik terhadap dinamika gejolak dan guncangan ekonomi. Sayangnya, pelaku usaha di sektor riil ini sering kali tidak mendapatkan akses terhadap perbankan, karena seringkali karena kebijakan dan peraturan yang ada disuatu bank itu sendiri, menyebabkan pelaku usaha sektor riil sering di klaim “unbankable”. Industri perbankan sendiri relatif nyaman dengan sektor konsumtif melalui bermacam produk seperti Kredit Tanpa Agunan, ataupun kartu kredit yang memang didorong oleh daya konsumsi masyarakat Indonesia yang semakin meningkat. Margin keuntungan yang ditawarkan oleh kredit konsumtif yang lebih besar ketimbang kredit produktif seharusnya tidak menjadi ganjalan bagi perbankan, khususnya perbankan syariah. Memberikan kredit kepada sektor produktif akan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Edukasi dan Komunikasi

Edukasi dan sosialisasi serta komunikasi perbankan syariah perlu ditingkatkan lagi. Karena masyarakat umumnya relatif belum terlalu memahami mengenai produk perbankan syariah. Jangan sampai permasalahan seperti sengketa antara perbankan syariah dengan nasabahnya menyeruak seperti ketika permasalahan gadai emas suatu bank syariah misalnya terjadi kembali. Bank Indonesia beberapa waktu lalu pernah mengkomunikasikan iB atau Islamic Banking, melalui berbagai media komunikasi seperti iklan di radio, di media massa dan online. Setiap Bank Syariah, Unit Usaha Syariah dan BPR Syariah bahkan diwajibkan mencantumkan logo iB pada setiap materi komunikasinya.

Peningkatan Kompetensi SDM Perbankan Syariah

Upaya memajukan perbankan syariah disini perlu diiringi dengan peningkatan kompetensi sumber daya manusia yang memahami prinsip-prinsip kesyariahan. Masih banyak SDM perbankan syariah yang berasal dari perbankan konvensional. Faktor SDM di perbankan syariah memang masih menjadi momok dari perbankan syariah, baik dari sisi kuantitas dan kualitasnya. Kerjasama dengan dunia pendidikan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas SDM Perbankan syariah perlu terus menerus disinergikan. Selain itu kebijakan mengenai pelatihan, peningkatan kompetensi, pemberian reward perlu diperhatikan juga oleh Bank Induk.

Mendirikan Bank BUMN Syariah

Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Firdaus Jaelani menyatakan Indonesia perlu memiliki bank BUMN Syariah untuk memacu pertumbuhan ekonomi syariah di negeri ini. Dengan adanya bank BUMN Syariah, pemerintah dapat menjadikan bank tersebut sebagai bank persepsi untuk sejumlah program ekonomi nasional.

Pengawasan Semua Pihak

Pengawasan terhadap perbankan syariah juga menjadi salah satu hal yang diperhatikan oleh Bank Indonesia dan kedepan juga nantinya oleh Otoritas Jasa Keuangan. Pengawasan ini pun sebaiknya turut melibatkan Majelis Ulama Indonesia, dan dunia akademisi, agar perbankan syariah tetap menjalankan pengelolaannya sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.

Colek Saya di @Roji Hasan dan Fakhrurroji Hasan

Sumber :

Outlook Perbankan Syariah Tahun 2013

Presiden SBY Canangkan Gerakan Ekonomi Syariah

OJK  Harapkan Bank BUMN Syariah Segera Terwujud

Bank Syariah Jangan Jadi Buntut Bank Nasional

BI Dorong Bank Syariah Sinergi dengan Bank Induk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s