Cerita Dibalik Juara ARA. Antara Red Top, Juanda III dan Pacific Place


Segala hingar bingar tentang Annual Report Award memang telah usai. Ada yang menang. Ada yang kalah. Hukum alam dari sebuah kompetisi. Kompetisi Annual Report Award makin lama makin bergengsi. Terbukti, tiap tahun pesertanya terus bertambah. Menjadi juara, bukanlah hal yang mudah, meskipun tidak mustahil. Sebesar apapun aset sebuah perusahaan, secemerlang apapun kinerjanya, tidak menjamin posisi tertinggi di kompetisi ini. Annual Report Award adalah kompetisi yang melakukan penilaian terhadap kualitas penyajian informasi yang disajikan dalam laporan tahunan sebuah perusahaan. Annual Report Award diusung oleh Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, Bursa Efek Indonesia, KNKG, Ikatan Akuntan Indonesia, Kementerian BUMN, dan Dirjen Pajak Kemenkeu RI.

Cerita tentang saya, buku Annual Report dan kompetisi Annual Report Award dimulai sekitar 5 tahun yang lalu. Saya menjadi bagian dari tim penyusun Annual Report kantor saya . Usia saya baru 24 tahun saat itu. Pengalaman saya semakin besar ketika tahun 2011, saya didapuk menjadi leading copywriter untuk Annual Report kantor saya tahun 2010. Pembelajaran otodidak sekaligus diskusi dengan konsultan sembari membedah kriteria Annual Report Award dan juga membandingkan dengan buku Annual Report dari kompetitor lain menjadi bekal berharga bagi pengembangan kemampuan saya. AR 2010 telah menjadi standar tertinggi dan melampaui apa yang telah kami capai.

Tak sia-sia rasanya menginap di hotel red top untuk “karantina” bersama segenap tim yang lain. Tim AR mendapatkan surat undangan untuk nominasi dan Manajemen pun diundang untuk wawancara dengan juri ARA. Sebuah pencapaian yang sangat membanggakan saat itu. Diundang wawancara oleh Dewan Juri ARA berarti perusahaan anda sudah hampir pasti menjadi 4 besar. Saya sampai sujud syukur saat itu dikantor ketika mendapatkan faks undangan dari panitia ARA. Tibalah saat malam pengumuman di Pacific Place. Malam itu kami datang dengan harapan. Mungkin inilah saatnya untuk kami masuk setidaknya menjadi 3 besar ARA. Tapi 3 besar di kategori kami sangatlah sesak. Ada 4 bank bumn yang nongkrong disitu. Kami BUMD bisa bersyukur bisa menyeruak diantara salah satunya.

Malam itu kami memang tidak mendapatkan gelar apa-apa, tapi kami mendapatkan keyakinan bahwa bahkan BUMD pun punya peluang mengalahkan BUMN. Tahun berikutnya saya dan tim pun memasang target harus bisa naik podium. Tambahan hari “karantina” di hotel red top menjadi hal kecil, tidak lebih besar dari mimpi kami. Di meja saya, bahkan sampai saya tuliskan mimpi saya 3 besar ARA. Saya juga sampai menyematkan doa menjadi tiga besar ARA dalam nama anak saya, Khansa Tiara Althea, kata Tiara adalah singkatan dari Tiga Besar ARA.

Lalu ada momen penambahan kategori BUMD dipisah dari BUMN. Alhamdulillah kami berhasil jadi juara ARA untuk kali pertama. Tapi kontroversi menyertai. Dalam suatu pelatihan, seorang mantan juri ARA membuat anekdot yang sama sekali tidak lucu. Kata orang itu BUMD dipisah oleh BUMN supaya bisa jadi juara ARA. Kalau tidak, maka BUMD tidak akan pernah bisa menjadi juara. Ucapan itu kontan membuat saya marah. Dari posisi duduk saya berdiri sembari menggebrak meja dan saya tunjuk-tunjuk orang itu dan saya bilang kalau AR BUMD tidaklah kalah kualitasnya dengan AR BUMN. Orang itu telah mencederai mimpi saya yang saya dan tim wujudkan dengan hasrat tertinggi.

ARA adalah panggung piala dunianya bagi seorang corporate copywriter seperti saya. Gelar yang diraih dengan susah payah seperti dianggap sepele sama orang itu.Kami boleh saja dianggap beruntung, tapi keberhasilan itu kan persiapan matang bertemu dengan keberuntungan. Jika tim kami tidak mempersiapkan diri dengan baik, apakah kami mungkin menjadi juara ARA? Kami pun semakin semangat mempertahankan gelar itu tahun ini. Annual Report dimata saya memang bukan hanya sekedar memenangkan ARA saja. Annual Report telah mengajarkan saya banyak hal dalam proses penyusunannya. Saya belajar tentang tata kelola perusahaan, manajemen risiko, financial dan berbagai hal lainnya.

Memenangkan ARA adalah sebuah bonus. Mahakaryanya ya AR itu sendiri. Alhamdulillah kami pun berhasil kembali menjadi juara 1 untuk kali kedua berturut-turut. Perjuangannya semakin berat. Hotel Red Top kembali menjadi “sanctuary” kami. Waktu “karantina” pun semakin panjang. Pacific Place kembali menjadi saksi pencapaian kami. Suatu hal yang barangkali tak pernah terbayangkan. Tahun depan saya dan tim ingin mencetak hattrick. Dan mungkin membayangkan menjadi juara umum ARA. Dulu, saya dikata gila saat bermimpi masuk kedalam 3 besar ARA. Saya pun tak berkeberatan dikata gila ketika bermimpi bisa menjadi juara umum ARA. Mimpi itu memang seharusnya Tak Terbatas.

Colek Saya di @RojiHasan dan Fakhrurroji Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s